Corona Musuh Bersama
Dalam waktu empat bulan terakhir jagat dunia masih dihebohkan dengan sebuah penyakit yang menyerang saluran pernafasan, yaitu virus corona atau covid-19 (corona virus disiase 19). Penyebarannya pun sampai saat ini masih sangat jauh dari kata berhenti bahkan vaksin untuk menangkalnya pun masih belum ditemukan. Penyebarannya yang begitu mudah hanya melalui kontak fisik antara satu orang dengan orang yang lain menjadikan virus ini menjadi salah satu pembicaraan yang universal sekaligus menjadi momok yang sangat menakutkan bagi seantero dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pertanggal 30 April 2020 Covid-19 di Indonesia telah berhasil menembus angka 10.118 dengan jumlah kematian 792 orang dan jumlah pasien sembuh sebanyak 1.522 orang. Tingginya angka kasus terinfeksi covid-19 ini memperlihatkan betapa ganasnya virus ini bahkan pemerintah belum menemukan langkah yang betul-betul tepat untuk melawan teror dari virus yang menyerang saluran pernafasan ini. Virus ini pun sontak menjadi bahan perbincangan yang sangat eksis baik di dunia nyata maupun di berbagai media sosial.
Mobilitas sistem sosial di hampir semua kelompok dari yang paling micro (keluarga) hingga yang paling complex (negara) dicerai-beraikan. Integrasi yang selama ini dipandang sebagai modal bagi terciptanya kohesi sosial dalam realitasnya rapuh. Kenyataan itu seakan mengingkari teori-teori sosiologi klasik-modern seumpama Comte, Weber, Marx, Durkheim & Parsons. Kesadaran kolektif justru dibutuhkan hanya untuk melerai kepadatan kelompok. Semakin kecil kerumunan semakin besar peluang untuk hidup. Corona membalikkan pula semboyan klasik soal bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, yang ada bercerai kita survive, bersatu kita mati. (IndoNews.id: 2020).
Serangan pandemic ini telah berimbas pada seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari aspek sosial, politik bahkan ekonomi.
Pada ruang sosial domestik, Corona seakan memperbaiki kembali rumah dan tangga tempat manusia beranjak. Keluarga sebagai pondasi terbaik bagi konstruksi bernegara kembali didamaikan. Laporan di hampir setiap negara menunjukkan bahwa keluarga sebagai basis pemerintahan itu rentan dengan problem yang dihadapinya. Angka perceraian yang tinggi akibat lemahnya ekonomi menjadi satu dari sekian sebab yang membuat institusi keluarga berantakan. Jika keluarga adalah masa depan negara, maka Corona seolah dikirim Tuhan untuk merehabilitasi kembali institusi kecil itu sekaligus menguatkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lembaga sosial keagamaan pun tak luput dari perhatian serius Corona. Simbol-simbol keyakinan yang selama ini sakral dan suci seperti masjid, gereja, pura, kuil, dan sinagog tak berarti apa-apa. Corona bukan saja tak menghormati Tuhan, tapi lebih ditakuti daripada Tuhan itu sendiri, sebab manusia lebih memilih mengunci rapat tempat ritualnya dibanding memuja Tuhan secara berjamaah.
Dalam sistem ekonomi, Corona menguji ketahanan manusia dalam jangka panjang. Ia menguji beroperasinya faktor-faktor produksi dan keadilan distribusi pada setiap negara. Corona seakan pula ingin mengembalikan sistem ekonomi manusia ke era traditional.
Dalam keadaan ekstrem bukan mustahil pola barter dapat terjadi, sebab masyarakat kota sangat bergantung pada produksi masyarakat di desa jika terjadi kelangkaan sumber daya. Sistem ekonomi yang bersifat hirarkhi, pasar dan campuran juga diuji secara serentak. Dinegara dengan sistem ekonomi sentralistik seluruh sumber daya dikuasi dan didistribusikan dengan cepat dari rantai puncak kekuasaan ke level terendah. China dan Malaysia mempraktekkan.
Lain halnya negara dengan sistem ekonomi kapitalistik (demokrasi), sebagian besar sumber daya dikuasai kelompok pemegang modal. Efeknya, distribusi sumber daya ke level terbawah seringkali mengalami kemacetan panjang.
Masalahnya, faktor-faktor produksi seperti modal, sumber daya alam, sumber daya manusia, enterpreneurship, dan sumber daya informasi dikuasai oleh subkultur ekonomi dinegara tersebut. Amerika contohnya, untuk memproduk obat antivirus dan Alat Pelindung Diri (APD) mereka mesti memesan pada pihak swasta.
Dalam situasi demikian Corona memberi kita kesadaran untuk menyeimbangkan kekuatan ekonomi dari kelas atas ke kelas menengah kebawah. Disadari bahwa ketakutan terbesar terhadap ancaman Covid 19 berada di level Borjuis, meski lebih ditakuti lagi dampak ekstrem pada kelompok proletar akibat ketidakseimbangan ekonomi yang dapat menciptakan wabah baru seperti perilaku anarkhis, caos, konflik sosial, perampasan dan perampokan dengan alasan kelaparan.
Tentu saja tidak ada kelas yang paling diminati kecuali mereka yang selama ini menguasai sumber daya, kaum elit. Upaya lockdown, karantina, maupun pembatasan sosial berskala besar dalam waktu tertentu bukan tanpa implikasi, tapi kemampuan manusia dalam menciptakan keseimbangan ekonomi dapat menjamin masa depan atas sistem ekonomi yang dianutnya.
Keluarnya PP No 21 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga belum mampu memberikan jaminan, bahwa problem ekonomi akan terselesaikan. Bahkan PSBB masih belum jelas langkahnya. Karena masih bersifat karantina setengah hati. Pemerintah dianggap tidak tegas dan tidak mau bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya, atau lari dari tanggung jawab ekonomi. Skenario pertumbuhan dengan angka di bawah 2,5 persen adalah masalah virus Covid-19 semakin berat. Artinya, Indonesia tidak mampu menangani pandemik lebih dari enam bulan dan terjadi lockdown alias isolasi secara penuh. Kondisi tersebut belum ditambah jika perdagangan internasional hanya tumbuh di bawah 30 persen. Lalu, industri penerbangan mengalami shocked karena turunnya jumlah penumpang hingga 75 persen. Skenario itu juga mempertimbangkan melemahnya konsumsi rumah tangga. Hal itu berdampak terhadap PHK tenaga kerja.
Terkahir, Corona tampaknya memberi panggung politik bagi siapa saja asal tak gentar berhadapan dengannya. Resikonya tanggung sendiri, puluhan pejabat di dunia tewas bahkan bunuh diri karena tak sanggup menghentikan korban yang meningkat ibarat deret ukur dimana-mana. Tantangan terberat para pemimpin dunia kini bukan hanya menghindari serangan laten virus Corona, tapi lebih dari itu depresi mental akibat kegagalan moral dalam mempertanggungjawabkan kepemimpinannya dihadapan masyarakat. Politik pun kini seakan dikembalikan ke asal-usulnya, hanya mereka yang paling berani mengambil inisiatif dan mampu menyelamatkan rakyatnya yang akan bertahan sebagai pemimpin yang sesungguhnya.
Referensi:
https://indonews.id/mobile/artikel/28802/Sentimen-Corona-Pada-Konsensus-Sosial-Ekonomi-dan-Politik-Manusia/
Referensi:
https://indonews.id/mobile/artikel/28802/Sentimen-Corona-Pada-Konsensus-Sosial-Ekonomi-dan-Politik-Manusia/
https://www.rmol.id/read/2020/04/07/429153/Corona-Dan-Dilema-Ekonomi-Politik-